Masyarakat Unggul Memilih Pemimpin (Fenomena Pilrek di ITS)
Oleh: Harus Laksana Guntur

Saat ini, ITS sedang menyelenggarakan pemilihan rektor periode 2011-2015. Ada 11 kandidat yang lolos dalam penjaringan awal calon rektor ITS periode mendatang. Dari 11 calon ini akan diseleksi lagi menjadi 5 orang melalui pemilihan langsung oleh seluruh civitas akademika di ITS. Dosen, karyawan dan mahasiwa akan memilih 5 terbaik dari 11 calon. 5 calon terpilih akan diseleksi lagi oleh senat menjadi 3 besar untuk diajukan kepada Mendiknas dan Presiden. Mendiknas dan Presiden akan memilih 1 dari 3 calon yang disodorkan oleh senat.

Sejak pemilihan rektor ini secara resmi dimulai oleh PPCR(Panitia Pemilihan Calon Rektor), para calon dan tim suksesnya pun mulai bermanuver mengatur strategi pemenangan. Poster dan sepanduk juga mulai banyak menghiasi dinding dan jalanan di sekitar kampus. Fenomena yang wajar terjadi dan memang seharusnya dilakukan pada masa kampanye seperti ini.

Pada masa-masa seperti ini, subyektifitas meningkat, para pendukung calon akan selelu merasa bahwa calonnyalah yang paling benar-sementara calon lain salah, kecurigaan meningkat, rasionalitas tidak lagi berfungsi dengan baik, dan keberpihakan bukan lagi pada nilai-nilai kebenaran, tapi pada tokoh/person. Dan kadang, para pendukung sudah tidak lagi mematuhi aturan yang telah disepakati. Bahkan cenderung liar, menghalalkan segala cara dan anarkis. Ini yang biasa terjadi pada pilkada.

Pilrek pasti beda dengan pilkada!, itu yang ada dibenak saya sebelum saya menyaksikan sendiri bagaimana suasana pilrek di kampus. Kenapa saya begitu yakin bahwa pilrek beda dengan pilkada? Karena kampus adalah miniatur masyarakat berbasis pengetahuan. Di kampus berkumpul orang-orang unggul dengan kapasitas intelektual yang memadai. Sehingga tidak salah kalau kampus disebut sebagai center of excellence dan knowledge based society. Perilaku masyarakat kampus pasti mencirikan sesuatu yang unggul dan berbasis pengetahuan. Perilaku masyarakat yang unggul dan based on knowledge biasanya taat aturan, bermoral, mengedepankan rasionalitas, dan berpihak pada nilai-bukan person.

Tapi, apa yang terjadi tidaklah seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Pemilihan rektor telah menunjukkan potret yang sebenarnya dari masyarakat kampus, yang ternyata tidak jauh berbeda dengan masyarakat umum. Fenomena yang biasa terjadi pada pilkada juga terjadi pada pilrek, tentu dengan kadar yang sedikit lebih rendah.

Alhamdulillah, saya termasuk yang masih bisa menggunakan akal sehat dan hati nurani dalam pilrek kali ini. Sehingga saya bisa banyak belajar dari fenomena yang terjadi pada pilrek. Saya punya beberapa kolega di ITS yang masuk menjadi tim sukses dari calon-calon yang sedang berkompetisi. Dari perbincangan dan pengamatan, saya bisa menangkap bahwa kolega saya ini sudah kehilangan akal sehat dan hati nuraninya. Semangat yang dibawa adalah “pokoke”. Pokoke calonku sing paling OK. Semangatnya sudah bukan lagi untuk mencari yang terbaik bagi kampus. Tapi semangat “pokoke”. Doktrinasi bahwa yang hijau harus pilih hijau, biru harus pilih biru juga digelorakan. Saling curiga pun tumbuh begitu hebat. Bahkan cenderung saling menjelek-jelekan satu sama lain. Tidak hanya para dosen, para mahasiswa-pun terkena imbasnya. Kehilangan akal sehat dan hati nuraninya.

Untungnya tidak semua civitas akademika di kampus yang kehilangan akal sehat dan hati nuraninya. Masih banyak diantara dosen dan mahasiswa yang bisa mengunakan rasionalitas dan moralitas sebagai dasar dalam menentukan pilihannya. Visi, misi dan program kerja para calon menjadi dasar mereka dalam memilih yang terbaik buat ITS. Demikian juga yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat kita dalam memilih calon pemimpin negeri ini. Debat dan adu gagasan terkait visi-misi-progam kerja harus lebih menonjol dibandingkan dengan mobilisasi masa dan doktrinasi. Cara-cara yang mencerdaskan harus lebih dominan daripada cara-cara yang membodohi.

5 besar calon rektor pilihan rakyat ITS ini akan diseleksi lagi oleh senat untuk mendapatkan 3 yang terbaik. Maka pada senat juga tertumpu harapan ribuan civitas akademika di kampus. Sayangnya, angota senat yang terhormat, yang didalamnya berisi para guru besar dan utusan jurusan, juga sudah mulai terkooptasi. Mereka sudah terkotak-kotak oleh kepentingan pragmatis. Tawaran jabatan dan posisi penting menjadi daya tarik tersendiri sehingga mereka cenderung mengabaikan akal sehat dan hati nuraninya. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Sehingga tidak heran kalau kadang suara senat sama sekali tidak mencerminkan pilihan rakyat kampus. Senat adalah kumpulan guru-guru besar. Guru memiliki arti yang digugu dan ditiru. Guru besar seharusnya mencerminkan sosok yang digugu dan ditiru, serta memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni dan tingkat keluasan hati(wisdom) seperti samudera, sebagai pijakan dalam mengambil sebuah keputusan. Keputusan guru yang besar seharusnya sebuah keputusan yang sudah bebas dari kepentingan pribadi, golongan dan duniawi. Sebuah keputusan yang punya dimensi jauh kedepan, berpihak pada umat dan berdasar sebuah nilai kebenaran universal. Kalau anggota senat sudah bisa berperilaku seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru yang besar, saya yakin tidak hanya yang terbaik yang akan memimpin ITS. Tapi tradisi masyarakat unggul dan berbasis pengetahuan akan terbangun di kampus, dan menular ke masyarakat Indonesia.Sehingga kelak Indonesia juga akan dipimpin oleh yang terbaik di negeri ini. Wallahu a’lam.

*)Dr. Harus Laksana Guntur adalah dosen di Jurusan Teknik Mesin, ITS.