[ Metropolis, Sabtu, 15 Mei 2010 ]
Lutut Bergerak, Listrik pun Mengalir
http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=133956
disclaimer:byk terjadi kesalahan penulisan pada berita ini.

SUKOLILO – Penemuan inovatif kembali lahir di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Umarudin, mahasiswa jurusan teknik mesin, membuat alat penyuplai energi listrik untuk tugas akhir.

Bentuk alat tersebut kotak. Ada sebuah roda setengah lingkaran terkait sedemikian rupa dengan kotak itu. Di kotak tersebut sejumlah komponen dan alat dirangkai jadi satu. Alat itu berfungsi sebagai penyerap dan pengubah energi. Dari energi gerak menjadi energi listrik.

Kala alat tersebut dihubungkan dengan cara diikat pada bagian lutut, roda setengah lingkaran akan turut bergerak ketika lutut bergerak. “Nama alat ini adalah emergency power supply alias alat penyuplai energi darurat, khususnya energi listrik,” kata mahasiswa kelahiran Bangkalan itu.

Umar -sapaan Umarudin- menjelaskan, voltase listrik yang dihasilkan alat tersebut berkisar antara 7-9 volt. Energi senilai itu sanggup memfungsikan telepon seluler atau laptop.

Paling tidak, untuk menghasilkan voltase listrik berkekuatan 7-9 volt, seseorang harus berjalan konstan dengan kecepatan 6 km/jam .Sedangkan untuk menghasilkan energi listrik 12 volt, dibutuhkan kecepatan yang lebih tinggi lagi diatas 10km/jam.Arus yang dihasilkan masih relatif kecil,berkisar 5-10mA.

“Itu sudah pernah saya ukur memakai alat pengukur voltase bernama osiloskop,” papar mahasiswa yang selama pembuatan tugas akhir itu diarahkan Dr Harus Laksana Guntur ST MEng tersebut.

Umar menyatakan, banyak yang harus dibenahi dari alatnya. Alat itu baru sebatas menghasilkan energi listrik. Belum dibuat alat untuk menyimpan energi tersebut. Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan energi pun masih relatif lama.

“Roda yang saya pakai juga masih berat. Terbuat dari besi. Saya ingin pakai bahan teflon agar lebih ringan,” terang pemuda 24 tahun itu.

Harus LG menyampaikan, untuk sementara, tugas akhir buatan Umarudin sudah memenuhi persyaratan kelulusan. Alat tersebut akan diuji di hadapan para dosen penguji Juni mendatang. “Saya akan cari mahasiswa lain untuk penyempurnaan alat ini,” ungkap doktor lulusan Negeri Sakura Jepang tersebut.

Alat penyuplai energi seperti itu, kata Harus LG, sangat cocok digunakan prajurit di medan tempur. Mereka tidak perlu membawa baterai cadangan yang beratnya puluhan kilogram untuk menjalankan alat komunikasi atau alat elektroniknya. (rio/c9/ttg)