Kado Buat Pensiunan
Oleh: Harus Laksana Guntur

Bagi mereka yang tidak siap, pensiun bisa menjadi bagian dari perjalan hidup yang sangat menakutkan. Sampai ada istilah “post power syndrome” untuk menggambarkan betapa menakutkannya masa pensiun itu dalam perjalan hidup manusia. Ada yang berpikiran negatif. Pensiun berarti tibanya masa berkurangnya rejeki. Pensiun berarti sudah tidak lagi dihormati. Dan, pensiun berarti telah dekatnya kita dengan mati. Maka,banyak yang menjadikan pensiun sebagai alasan untuk tidak lagi memproduksi dan berkontribusi. Sehingga sangat wajar bila banyak yang sedih dan takut ketika pensiun itu datang menghampiri.

Beberapa waktu belakangan ini, banyak sekali dosen dan karyawan ditempat saya bekerja yang pensiun. Sebagian besar menunjukkan ekspresi kesedihan diwajahnya. Mungkin hanya kesedihan yang timbul karena harus berpisah dengan rekan-rekannya, yang selama puluhan tahun telah bekerja bersama-sama. Sangat manusiawi.

Walau tidak semua, ada diantara kita yang phobia dan kalau bisa tidak pernah penisun. Karena baginya pensiun adalah fase berkurangnya rejeki. Padahal rejeki dari Allah untuk setiap hambaNYA sudah pasti. Sama sekali bukan merupakan fungsi profesi dan kedudukan. Allah akan berikan bagian kita. Tidak lebih dan tidak kurang. Juga tidak akan salah alamat dan jatuh ke orang lain. Ada satu wejangan yang sangat dalam dari seorang ulama. Dia mengatakan,”Apa yang menjadi bagianmu akan diberikanNYA padamu. Dan apa yang menjadi bagian orang tidak akan kamu dapatkan meskipun kamu berusaha mendapatkannya sampai-sampai kamu dibuatnya sibuk dan melupakanNYA”.

Allah lebihkan rejeki sebagian dari mereka yang Dia kehendaki. Demikianlah Allah menciptakan keseimbangan dalam dunia ini. Ada yang dilebihkan dan ada yang dibuatnya kekurangan. Karena kalau ada yang memberi tentu harus ada yang menerima. Agar roda dunia terus berputar dalam keseimbangan. Maka beruntunglah bagi siapa saja yang mau merenung dan mencoba melihat dunia ini sebagai satu kesatuan. Dia akan mendapatkan hikmah dan pelajaran darinya. Sehingga kita tidak terlalu bersedih bila dalam kondisi kekurangan dan tidak lupa bila berkelebihan.

Ada juga yang menganggap pensiun berarti telah hilangnya kehormatan diri. Orang sudah tidak lagi memandang kita seperti dulu lagi. Karena telah hilangnya kehormatan diri bersama hilangnya jabatan dan profesi. Sehingga tidak jarang ada yang setelah pensiun kehilangan kepercayaan diri. Dan berjalan dengan wajah tertunduk malu seolah takpunya lagi kekuatan dan harga diri. Karena pangkat dan gelar yang dulu kita banggakan kini telah musnah. Yang ada hanyalah seorang pensiunan dan purnawirawan.

Kehormatan seorang manusia tidak terletak pada pangkat, jabatan dan profesi yang kita miliki. Kehormatan manusia terletak pada tingkat kemanfaatannya bagi manusia yang lain. Kehormatan kita ada dalam genggamanNYA. Yakinlah! Dia akan berikan kehormatan pada siapa saja yang Dia kehendaki.Yaitu, mereka yang mendekatkan diri padaNYA dan berusaha dengan keras untuk hidup serta berperilaku sesuai tuntunanNYA. Penggalan isi surat Al-Hujurat:13 dan Al-Imron:26 rasanya patut jadi bahan renungan kita semua. Al-Hujurat:13 mengatakan,”…..Ketahuilah,yang paling terhormat(mulia) diantara kamu adalah yang paling takut pada Allah.Sungguh,Allah maha tahu dan maha teliti”. Dan Al-Imran:26 berkata,”Milik Allah kerajaan langit dan bumi.Allah berikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki.Dia cabut kekuasaan dari siapa yang dikehendaki. Allah berikan kehormatan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah hinakan siapa saja yang Dia kehendaki.Semua kebaikan ada dalam genggamanNYA.Sesunggunya Allah mampu melakukan apa saja”.

Pensiun berarti purna bakti. Fase telah berakhirnya waktu yang diberikan pada kita untuk berbakti pada institusi. Setiap orang akan mengalami pensiun. Rela atau tidak. Dan sebaiknya kita mempersiapkan diri, secara meterial dan yang lebih penting adalah spiritual. Masa tugas kita di tempat kerja biasanya sudah terdefinisi. Seorang dosen masa kerjanya sampai usia 65thn. Seorang karyawan pabrik dan PNS masa kerjanya hanya sampai usia 55thn. Sehingga seharusnya tidak terlalu sulit untuk mempersiapkan diri secara material dan mental karena pensiun yang ini sudah definitif waktunya.Yang susah persiapannya adalah pensiun dari semua tugas yang dibebankan Allah kepada manusia di dunia ini. Karena takseorangpun tahu kapan tiba masanya. Maka, orang yang beruntung adalah mereka yang tidak menggunakan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna. Orang yang beruntung adalah mereka yang menggunakan waktunya untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi masa pensiun yang sebenarnya. Sebelum kita-dengan rela atau tidak-dipurnatugaskan olehNYA.

Apakah kalau sudah pensiun dari institusi kerja berarti berhentinya segala aktifitas kontributif kita? Tentu tidak! Dan seharusnya tidak! Jepang memiliki masyarakat dengan etos kerja yang sangat tinggi. Pernah saya jumpai seorang rekan kerja yang usianya sudah diatas 70thn,sudah pensiun,tapi masih giat melakukan riset dan publikasi. Semua dia lakukan bukan karena uang,jabatan atau profesi. Tapi, karena kecintaannya pada pekerjaan dan keinginannya memberikan kontribusi maksimal pada umat manusia. Seharusnya kita mampu melakukan lebih dari yang masyarakat Jepang bisa lakukan. Karena kita meyakini adanya Tuhan dan berarti percaya pada janjiNYA akan surga sebagai hadiah atas apa yang kita lakukan didunia. Kata sahabat saya,”Bekerja dan teruslah berusaha sekuat tenaga sampai Tuhan menangis melihatmu bekerja dan berusaha”. Teruslah berkarya dan berkontribusi temanku, sahabatku, guruku, para pensiunan dan calon pensiunan! Sampai pensiun kita yang sebenarnya tiba.

Advertisement