Human Powered Mobile Charger
(Majalah Tempo,edisi minggu kedua Pebruari 2010)
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/02/08/INO/mbm.20100208.INO132688.id.html

HABIS baterai telepon ketika joging atau jalan-jalan bakal menjadi cerita kuno. Olahraga aman dan ringan itu justru bisa menjadi sarana buat mengisi kembali baterai Anda. Tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, membuat charger berjalan, yang mengisi daya dengan gerak sebagai sumber listrik.

Harus Laksana Guntur, dosen teknik mesin yang memimpin tim, mengatakan prinsip kerja pengecas berjalan seukuran dua bungkus rokok ini sederhana, yakni mengubah energi kinetik menjadi listrik dengan bantuan dinamo. Dengan alat dipasang di pinggul, dinamo akan menangkap getaran gerak ketika pemakai berjalan, lalu mengubahnya menjadi listrik.

Harus mendapatkan ide ketika menyelesaikan program pascasarjana di Jepang, enam tahun silam. Sejumlah stasiun kereta di Tokyo, menurut dia, memanfaatkan lalu-lalang pejalan kaki sebagai sumber listrik. Satu alat setipis kertas berwarna perak otomatis menghasilkan listrik ketika diinjak. ”Tapi mahal, tiap lembar seukuran 0,3 x 1 meter harganya sekitar Rp 16 juta,” katanya pekan lalu.

Tahun lalu, Harus mengumpulkan sepuluh mahasiswanya dan menyampaikan ide pembuatan alat serupa yang murah. Satu kelompok mahasiswa ditugasi mengukur potensi gerakan tubuh manusia. Kelompok lain diminta mencari reduksi dimensi gerakan manusia.

Muchamad Rudy Hermanto, mahasiswa anggota tim, menyimpulkan gerakan tubuh manusia berpotensi menciptakan sekitar 30 watt tiap kilogram berat badan. Semakin berat, semakin besar pula potensi energinya. ”Pusat energi ada di sekitar pusar,” kata Rudy.

Dia kemudian merancang alat penangkap gerak. Dinamo dibuat, yang bisa menyesuaikan diri dengan gerak tubuh. Pada awalnya, listrik yang dihasilkan tak stabil. Rudy lalu menaruh baterai kosong yang dapat diisi ulang. Baterai ini berfungsi mengumpulkan listrik, yang disalurkan ke telepon seluler. Buat mengisi penuh satu baterai telepon, diperlukan sekitar lima menit jalan kaki—atau sekitar 400 meter dengan kecepatan biasa.

Harus menyatakan masih akan menyempurnakan alat ini. Di antaranya dengan memperkecil ukuran menjadi sebesar satu kotak korek api.

Advertisement